Azura Team • 2025-11-13
Kalau kamu selama ini ngedesain pakai Canva buat keperluan cepat, tapi pakai Affinity (Photo, Designer, Publisher) buat kerjaan yang lebih serius, kabar ini pasti bikin kaget sekaligus penasaran. Yup, sejak akuisisi Serif (pengembang Affinity) oleh Canva resmi dirampungkan pada 2024, sekarang di tahun 2025, kita udah bisa ngerasain hasil “perkawinan” dua dunia ini lewat Affinity by Canva.
Langkah ini jelas nunjukin ambisi besar Canva buat masuk ke ranah profesional design software yang selama ini dikuasai Adobe. Tapi pertanyaannya: apa aja yang berubah dari Affinity setelah resmi jadi bagian dari Canva?
Buat kamu pengguna lama Affinity, tenang aja — Canva nggak ubah total UI-nya. Tapi, mereka nyatuin elemen visual khas Canva biar lebih clean dan modern. Sekarang tampilannya lebih konsisten dan punya vibe “Canva meets Affinity”.
Fitur-fitur profesional seperti persona switching, layer management, dan vector editing tetap ada, tapi ditambah dengan beberapa integrasi Canva-style seperti template library, AI tools, dan akses langsung ke Canva Assets (icon, stock photo, font, dan elemen desain lainnya).
Intinya: Affinity masih buat yang “hardcore”, tapi lebih nyaman buat dipelajari oleh pengguna baru dari ekosistem Canva.
Inilah salah satu perubahan paling terasa. Sekarang, semua project di Affinity bisa langsung tersimpan di Canva Cloud, sama kayak file Canva biasa. Kamu bisa buka desain dari desktop, lanjut edit di iPad, bahkan preview lewat browser tanpa ribet ekspor file.
Selain itu, fitur kolaborasi real-time juga mulai masuk. Jadi, tim desain bisa kerja bareng di satu file Affinity tanpa harus bolak-balik kirim versi revisi.
Canva nggak mau ketinggalan tren AI 2025. Melalui integrasi Magic Studio, Affinity sekarang punya beberapa fitur berbasis AI yang bikin workflow makin cepat:
Jadi, meskipun Affinity tetap mempertahankan kedalaman fiturnya, Canva menambahkan “sentuhan cerdas” yang mempercepat proses kreatif — terutama buat desainer yang kerja dengan deadline ketat.
Sebelum akuisisi, Affinity dikenal karena one-time purchase (bayar sekali, pakai selamanya). Nah, di bawah Canva, ada sedikit perubahan. Sekarang ada dua opsi:
Paket langganan ini ngebuka akses ke fitur AI premium, library elemen Canva, dan kolaborasi cloud.
Beberapa desainer sempat skeptis soal model ini, tapi Canva cukup pintar — mereka tetap kasih opsi pembelian permanen biar nggak kehilangan basis pengguna loyal Affinity.
Dengan gabungnya Affinity ke Canva, sekarang kita bisa lihat satu ekosistem desain all-in-one:
Bayangin kamu bikin campaign dari Canva, terus fine-tuning logonya di Affinity Designer, lalu layout katalog di Affinity Publisher — semua bisa sinkron di satu akun.
Banyak yang bilang akuisisi ini jadi “wake-up call” buat Adobe. Dengan pricing yang lebih ramah, tool yang makin canggih, dan AI yang agresif, Canva makin solid di semua level pengguna — dari mahasiswa desain, freelancer, sampai agensi kreatif.
Di sisi lain, integrasi ini juga membuka peluang baru buat desainer self-taught. Kalau dulu Affinity terasa “berat” untuk pemula, sekarang learning curve-nya lebih halus berkat pendekatan user-friendly ala Canva.
Melihat semua perubahan ini, jelas bahwa Canva nggak lagi cuma main di ranah template. Dengan Affinity di bawah sayapnya, mereka resmi naik level ke dunia desain profesional.
Apakah ini berarti akhir dominasi Adobe? Belum tentu — tapi satu hal pasti: tahun 2025 adalah titik di mana kompetisi software desain jadi lebih seru dari sebelumnya.
PT. INSAN MEMBANGUN BANGSA
Jl. Lumbungsari V no 3 Kel. Kalicari, Kec. Pedurungan, Kota Semarang, Kode Pos 50198