Kenapa Banyak Aplikasi 2025 Terlihat Mirip? Fenomena ‘UI Cloning’

Azura Team2025-09-26

Azura Labs, Semarang – Pernah nggak sih kamu buka aplikasi baru di 2025, terus mikir: “Loh, kok tampilannya kayak yang itu-itu lagi?”

Yes, ini bukan halusinasi. Memang ada fenomena yang lagi rame disebut UI Cloning. Banyak aplikasi sekarang jadi kelihatan mirip, dari warna, ikon, sampai flow user journey-nya.

Tapi kenapa bisa gitu? Yuk, kita bahas bareng!

1. Tren Desain Minimalis & “Safe Choice”

Desain aplikasi 2025 makin condong ke gaya minimalis: putih bersih, banyak whitespace, font sans-serif yang rapi, plus tombol bulat atau rounded.

Alasannya simpel: user lebih nyaman dengan tampilan yang familiar. Brand akhirnya pilih main aman dengan ngikutin template visual yang sudah terbukti works.

Sayangnya, efek sampingnya: aplikasi jadi kurang stand out.

2. Figma, AI Design Tools, & Template yang Seragam

Sekarang hampir semua startup pakai Figma + AI Design Assistant. Tools ini otomatis nyaranin design system yang udah populer. Jadinya, kalau nggak kreatif bikin custom style, hasil akhirnya... mirip semua.

Misalnya, AI sering ngerekomendasiin warna biru muda, hijau toska, atau gradasi ungu–warna-warna yang udah umum banget di fintech dan edutech. Akhirnya, beda aplikasi cuma di logo doang.

3. User Experience Lebih Penting dari Originalitas

Di era serba cepat ini, orang nggak mau ribet adaptasi dengan interface baru. Makanya banyak perusahaan sengaja bikin UI yang familiar biar user langsung “klik” tanpa harus belajar ulang.

Contoh: gesture swipe kanan-kiri, bottom navigation bar, dark mode. Semua aplikasi udah pake pola sama, karena UX > uniqueness.

4. Budaya “Clone Fast, Ship Fast”

Startup 2025 punya mindset: “Lebih baik mirip dan jalan, daripada unik tapi ribet.”

Apalagi kompetisi ketat banget, mereka harus cepat rilis produk. Akhirnya, tim desain tinggal adaptasi dari aplikasi populer, tweak dikit, terus langsung go live.

5. Dampak ke Industri Kreatif

Fenomena UI Cloning ini ada plus-minusnya:

  • ✅ Positif: user gampang adaptasi, dev lebih cepat bikin produk.
  • ❌ Negatif: brand susah beda, desain jadi monoton, dan desainer UI/UX kehilangan ruang eksplorasi.

Di sisi lain, justru ini peluang buat desainer yang berani nyari diferensiasi. Aplikasi dengan ciri visual kuat bisa lebih gampang nempel di ingatan user.

Jadi, Apakah UI Cloning Buruk?

Nggak sepenuhnya. Selama pengalaman pengguna tetap oke, cloning bisa dibilang “jalan pintas” yang wajar. Tapi kalau semua aplikasi beneran seragam? Bisa-bisa orang bingung bedain mana app belanja, mana app bank.

Makanya, penting banget bagi brand untuk balance: familiar tapi tetap punya identitas sendiri.


Kesimpulan

Fenomena “UI Cloning” di tahun 2025 muncul karena kombinasi tren minimalis, AI design tools, pressure kompetisi startup, dan kebutuhan user akan pengalaman yang cepat dipahami.

Kalau ditanya “kenapa aplikasi sekarang mirip-mirip?” jawabannya: karena desain yang aman lebih diprioritaskan ketimbang desain yang beda.


See More Posts

background

Membangun User Experience yang Lebih Interaktif dengan Conversational UI di Tahun 2025

background

Desain Minimalis dalam UI/UX: Simplicity yang Meningkatkan Pengalaman User

background

Aksesibilitas dalam UI/UX: Bagaimana Mendesain untuk Semua Pengguna

Show more