Azura Team • 2026-01-26
Azura Labs - Di era digital seperti sekarang, serangan siber bukan lagi soal kalau, tapi soal kapan. Mulai dari website tiba-tiba down, data bocor, sampai sistem internal yang diambil alih pihak tak bertanggung jawab—semuanya bisa terjadi tanpa banyak tanda peringatan.
Nah, setelah serangan terjadi, satu pertanyaan besar biasanya langsung muncul di kepala tim IT dan manajemen :
“Sebenarnya apa yang terjadi, dan siapa pelakunya?”
Di sinilah Forensic Testing atau Digital Forensics memegang peran krusial. Bukan cuma untuk mencari tahu “siapa yang salah”, tapi juga bagaimana serangan bisa terjadi dan bagaimana mencegahnya terulang lagi.
Forensic Testing adalah proses mengumpulkan, menganalisis, dan memvalidasi bukti digital setelah terjadi insiden keamanan siber. Tujuannya bukan sekadar menemukan hacker, tapi juga :
Anggap saja forensic testing seperti olah TKP versi dunia digital. Semua log, file, dan aktivitas sistem adalah “jejak kaki” yang ditinggalkan hacker.
Banyak perusahaan langsung fokus ke recovery setelah diserang: sistem dinyalakan kembali, password diganti, layanan online lagi. Tapi tanpa forensic testing, ada risiko besar :
Forensic testing membantu perusahaan tidak hanya pulih, tapi juga belajar dari insiden.
Dalam forensic testing, hampir semua aktivitas digital bisa menjadi bukti. Beberapa yang paling umum antara lain :
Log adalah harta karun bagi forensic analyst. Dari sini bisa dilihat :
Sayangnya, banyak perusahaan baru sadar pentingnya log setelah kejadian.
Perubahan file, timestamp, atau permission bisa mengungkap :
Metadata sering kali menunjukkan kapan dan bagaimana file diubah.
Analisis trafik jaringan membantu menemukan :
Tools network forensic bisa memetakan jalur komunikasi hacker.
Ini level lanjut, tapi sangat penting. Banyak malware modern berjalan di memory tanpa meninggalkan file permanen. Dari RAM, analis bisa menemukan :
Agar hasilnya valid dan bisa dipertanggungjawabkan, forensic testing biasanya dilakukan dengan tahapan yang cukup ketat.
Langkah pertama adalah mengamankan sistem agar bukti tidak rusak.
Biasanya dilakukan dengan :
Kesalahan umum di tahap ini adalah langsung “membersihkan” sistem, padahal itu bisa menghilangkan bukti penting.
Di tahap ini, semua data relevan dikumpulkan :
Proses ini harus rapi dan terdokumentasi agar hasilnya bisa dipertanggungjawabkan secara hukum jika diperlukan.
Ini bagian paling menantang. Tim forensic akan :
Di sini biasanya terlihat apakah serangan dilakukan manual, pakai bot, atau bagian dari serangan terorganisir.
Hasil forensic testing tidak berhenti di temuan teknis, tapi harus diterjemahkan ke bahasa yang dipahami manajemen.
Laporan biasanya mencakup :
Masih banyak yang tertukar antara keduanya.
Idealnya, perusahaan melakukan keduanya sebagai bagian dari strategi keamanan menyeluruh.
Walaupun penting, forensic testing punya tantangan tersendiri :
Itulah kenapa security by design dan kesiapan sejak awal sangat krusial.
Di banyak kasus, hasil forensic testing digunakan untuk :
Dengan kata lain, forensic testing membantu perusahaan naik level dalam hal cyber resilience.
Tidak ada sistem yang 100% aman. Tapi perusahaan yang matang secara digital tahu satu hal penting:
yang membedakan adalah bagaimana mereka merespons setelah serangan terjadi.
Forensic testing memastikan setiap insiden menjadi pelajaran, bukan bencana berulang.
🚀 Tertarik Belajar Dunia Teknologi & Keamanan Digital Lebih Dalam?
Azura Labs saat ini membuka Open Recruitment Internship Fullstack Engineer untuk kamu yang ingin :
📌 Detail lengkap bisa kamu cek di Instagram:
👉 @azuralabs.id
Bangun karier teknologimu dari sekarang karena dunia digital butuh lebih banyak talenta yang bukan cuma bisa bikin sistem, tapi juga menjaganya.
Baca Juga :
PT. INSAN MEMBANGUN BANGSA
Jl. Lumbungsari V no 3 Kel. Kalicari, Kec. Pedurungan, Kota Semarang, Kode Pos 50198