Lowongan Entry Level Programmer Turun Drastis Di 2025

Azura Team2025-10-31

Azura Labs - Tahun 2025 menjadi tahun yang menantang bagi para pencari kerja pemula di sektor teknologi. Studi terbaru menunjukkan penurunan signifikan pada lowongan entry level programmer, terutama di bidang software development, IT support, dan data analysis.

Tren ini bukan hanya terjadi di satu wilayah, melainkan secara global. Dari Amerika Serikat hingga Eropa, laporan menunjukkan bahwa peluang bagi lulusan baru di dunia teknologi semakin menyempit sebagian besar dipicu oleh otomasi dan integrasi AI dalam proses kerja perusahaan.

Menurut laporan dari Randstad Global (Oktober 2025), jumlah lowongan untuk posisi dengan pengalaman 0–2 tahun turun 24% di sektor keuangan, dan tren serupa juga terlihat di industri teknologi.

Sementara itu, National Foundation for Educational Research (NFER) di Inggris mencatat penurunan hingga 68% untuk posisi pemrograman tingkat pemula dibandingkan dengan tahun 2019–2020.

Laporan TRT World bahkan menyoroti bahwa sejak AI mulai diadopsi luas dalam operasional bisnis, pekerjaan untuk kelompok usia 22–25 tahun di sektor teknologi menurun 13% secara global.

Artinya, perusahaan mulai menahan diri dalam merekrut talenta baru, dan lebih memilih tenaga kerja berpengalaman yang langsung bisa berkontribusi — atau bahkan menggantikan peran awal itu dengan sistem AI.

Otomasi & AI Ubah Strategi Rekrutmen

Mengapa lowongan entry level semakin langka? Jawabannya sederhana, AI dan otomasi membuat banyak pekerjaan pemula jadi tidak lagi diperlukan. Tugas-tugas seperti coding sederhana, software testing, bug fixing, dan maintenance kini dapat dilakukan oleh AI assistant atau platform otomatis.

Akibatnya, perusahaan lebih memilih menambah tenaga senior untuk mengelola sistem tersebut daripada melatih karyawan baru dari nol. Selain itu, strategi rekrutmen juga berubah menjadi berbasis “skill-first hiring”, di mana kemampuan teknis dan adaptasi terhadap AI lebih penting daripada gelar atau pengalaman kerja formal.

Dampak Bagi Talenta Muda dan Fresh Graduate

Bagi para fresh graduate, kondisi ini menjadi tantangan besar. Mereka kini bersaing tidak hanya dengan sesama lulusan baru, tetapi juga dengan profesional berpengalaman yang sedang berpindah karier ke bidang teknologi.

Banyak perusahaan juga mulai menggabungkan peran yang dulunya terpisah misalnya software engineer yang juga memahami cloud, keamanan, dan automasi. Artinya, standar untuk “entry level” kini lebih tinggi daripada sebelumnya.

Namun, dampak jangka panjang dari tren ini bisa berbahaya. Jika pipeline tenaga kerja junior terus menurun, industri akan kekurangan talenta menengah dan senior dalam 5–10 tahun ke depan.

Strategi Adaptasi di Tengah Pergeseran Pasar

Meski peluang entry level menurun, bukan berarti pintu dunia teknologi tertutup. Berikut strategi yang bisa diterapkan oleh talenta muda :

  • Pelajari skill yang sulit diotomatisasi, seperti keamanan siber, DevOps, dan analisis sistem kompleks.
  • Terlibat dalam proyek open-source atau freelance, untuk membangun portofolio nyata.
  • Pahami cara kerja AI dan gunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai ancaman.
  • Ikuti program magang, sertifikasi, atau bootcamp yang fokus pada praktik industri, bukan hanya teori.

Perusahaan pun disarankan untuk tetap membuka jalur pelatihan dan mentoring agar regenerasi talenta tidak terputus. Penurunan lowongan entry level programmer di 2025 mencerminkan perubahan mendasar dalam dunia kerja teknologi. AI dan otomasi bukan hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi juga siapa yang dibutuhkan di masa depan. Namun, justru di tengah perubahan inilah muncul peluang baru bagi mereka yang mampu beradaptasi cepat, belajar mandiri, dan menguasai teknologi yang mengubah dunia.

Baca Juga :


See More Posts

background

Tips Membuat CV untuk Posisi Assistant

background

Kunci Sukses Berkarir di Era Digital yang Cepat Berubah

background

How AI Overcomes Bias in Recruitment

Show more