Azura Team • 2026-01-12
Azura Labs - Kalau ngomongin UI/UX, kebanyakan orang langsung fokus ke homepage, landing page, atau halaman utama aplikasi. Wajar sih, karena itu yang pertama kali dilihat user. Tapi ada satu elemen yang sering diremehkan bahkan kadang dianggap “nanti aja” padahal dampaknya besar ke pengalaman pengguna, yaitu empty state UI.
Empty state adalah kondisi ketika konten belum ada. Misalnya :
Sekilas terlihat sepele. Tapi justru di momen inilah user paling rentan bingung, ragu, atau bahkan langsung keluar dari aplikasi. Makanya, desain empty state UI itu sama pentingnya dengan halaman utama.
Empty state UI adalah tampilan yang muncul ketika tidak ada data untuk ditampilkan. Bukan error, bukan bug tapi kondisi yang normal, terutama untuk :
Masalahnya, banyak aplikasi masih menampilkan empty state seperti ini :
“No data available.”
Titik. Selesai.
Tanpa penjelasan. Tanpa arahan. Tanpa empati.
Padahal dari sisi user, itu bisa terasa seperti :
“Ini maksudnya apa ya?”
“Aplikasi ini rusak?”
“Gue harus ngapain sekarang?”
Buat user baru, empty state sering jadi pengalaman pertama mereka di sebuah fitur. Bahkan kadang :
Kalau empty state-nya :
User bisa langsung kehilangan konteks.
Sebaliknya, empty state yang baik bisa :
Dengan kata lain, empty state adalah kesempatan emas untuk onboarding tanpa terasa seperti onboarding.
Kesalahan paling umum adalah menganggap empty state cuma placeholder. Padahal empty state yang bagus biasanya punya tiga elemen penting :
User perlu tahu :
Contoh :
“Kamu belum punya data transaksi karena belum melakukan pembelian.”
Ini jauh lebih manusiawi daripada “No data”.
Empty state seharusnya memberi petunjuk langkah berikutnya, bukan membiarkan user menebak.
Misalnya :
Empty state tanpa CTA itu kayak peta tanpa arah.
Nggak harus kaku dan formal. Justru empty state adalah tempat yang pas buat :
Contoh :
“Sepi banget di sini 😅 Yuk mulai dengan nambah task pertamamu!”
Ini bikin user merasa ditemani, bukan ditinggal.
Empty state UI punya pengaruh besar ke :
Kalau user :
Sebaliknya, empty state yang baik bisa :
Banyak produk digital gagal bukan karena fiturnya jelek, tapi karena user nggak pernah sampai ke tahap pakai fitur itu.
Ini penting :
Empty state ≠ error state
Kalau empty state didesain seperti error (warna merah, pesan negatif), user bisa salah paham dan mengira aplikasinya rusak.
Empty state seharusnya :
Beberapa contoh yang sering ditemui :
Masalahnya :
Ini seperti buka toko tapi lampunya mati dan nggak ada petunjuk apa pun.
Empty state yang efektif biasanya :
Misalnya :
“Belum ada proyek di sini. Buat proyek pertamamu dan mulai kolaborasi sekarang.”
Satu kalimat, satu tombol, satu arah. Jelas.
Banyak tim produk mendesain empty state di akhir atau bahkan lupa sama sekali. Padahal empty state seharusnya :
Terutama untuk :
Karena faktanya, kondisi kosong itu pasti terjadi.
Empty state juga bisa jadi media branding :
Brand yang fun bisa playful.
Brand profesional bisa tetap ramah tapi rapi.
Yang penting: konsisten dengan identitas produk.
Desain empty state UI bukan pelengkap, bukan aksesoris, dan jelas bukan hal sepele. Justru di saat “tidak ada apa-apa”, pengalaman user sedang diuji.
Empty state yang baik :
Kalau halaman utama adalah pintu depan, maka empty state adalah petugas yang menyambut dan mengarahkan. Dan tanpa petugas itu, banyak user akan langsung pergi.
Baca Juga :
PT. INSAN MEMBANGUN BANGSA
Jl. Lumbungsari V no 3 Kel. Kalicari, Kec. Pedurungan, Kota Semarang, Kode Pos 50198