Azura Team • 2026-01-05
Azura Labs - Dalam beberapa tahun terakhir, dunia desain antarmuka (UI) kembali diramaikan oleh gaya visual yang terasa futuristik dan elegan: UI transparan dan glassmorphism. Efek kaca buram, lapisan transparan, bayangan lembut, serta cahaya yang seolah menembus elemen UI semakin sering kita temui di aplikasi modern, dashboard, hingga sistem operasi.
Namun, muncul pertanyaan penting: apakah glassmorphism benar-benar sebuah evolusi desain jangka panjang, atau sekadar tren visual yang akan berlalu seperti skeuomorphism di masa lalu?
Glassmorphism adalah gaya desain UI yang meniru tampilan kaca buram (frosted glass). Ciri utamanya meliputi :
Desain ini menciptakan kesan ringan, modern, dan imersif, seolah-olah konten mengambang di atas permukaan kaca.
Sebenarnya, konsep UI transparan bukanlah hal baru. Kita bisa melihat akarnya sejak :
Perbedaannya, glassmorphism modern hadir dengan performa perangkat yang lebih kuat dan ekspektasi visual pengguna yang semakin tinggi.
Ada beberapa faktor yang mendorong kebangkitan glassmorphism :
Perangkat modern mampu menangani efek blur dan transparansi tanpa mengorbankan performa.
Glassmorphism sering dipadukan dengan minimalisme, membuat UI terlihat bersih dan elegan.
Brand teknologi ingin tampil futuristik dan premium, dan efek kaca memberikan kesan tersebut.
CSS modern, design system, dan tools UI kini lebih mudah mendukung efek transparansi.
Glassmorphism memberikan kesan eksklusif dan high-end, cocok untuk produk teknologi dan finansial.
Layer transparan membantu pengguna memahami hierarki visual.
Mulai dari mobile, desktop, hingga web dashboard.
Desain yang “mahal” sering diasosiasikan dengan kualitas produk yang baik.
Meski menarik, glassmorphism tidak lepas dari kritik.
Teks di atas background transparan berpotensi sulit dibaca, terutama bagi pengguna dengan gangguan visual.
Jika kontras tidak diperhatikan, UI bisa melanggar standar aksesibilitas.
Terlalu banyak blur dan transparansi bisa mengganggu fokus pengguna.
Meski hardware berkembang, tidak semua pengguna memiliki perangkat terbaru.
Tren desain UI sering berputar :
Glassmorphism berada di tengah: visual menarik, namun tetap harus dikontrol agar tidak mengorbankan usability.
Jawabannya : tidak selalu.
Glassmorphism sangat cocok untuk :
Namun kurang ideal untuk :
Desain UI tidak bisa dilepaskan dari UX. Glassmorphism harus :
UX designer perlu melakukan :
Tanpa UX yang kuat, glassmorphism hanya menjadi hiasan visual.
Kemungkinan besar, glassmorphism bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari evolusi desain UI. Elemen transparansi dan layering kemungkinan akan tetap ada, tetapi :
Seperti tren sebelumnya, elemen yang fungsional akan bertahan, sementara yang berlebihan akan ditinggalkan.
Ke depan, glassmorphism mungkin akan :
Bukan sekadar “kaca buram”, tetapi transparansi yang cerdas dan kontekstual.
UI transparan dan glassmorphism adalah refleksi dari kebutuhan desain modern: estetika, kedalaman, dan emosi visual. Namun, seperti semua tren desain, keberhasilannya ditentukan oleh keseimbangan antara keindahan dan kegunaan. Glassmorphism bukan sekadar tren sesaat, tetapi juga bukan solusi universal. Ia akan bertahan sebagai elemen desain, bukan sebagai gaya dominan mutlak. Desainer yang bijak adalah mereka yang menggunakan glassmorphism secara sadar, terukur, dan berorientasi pada pengguna.
Baca Juga :
PT. INSAN MEMBANGUN BANGSA
Jl. Lumbungsari V no 3 Kel. Kalicari, Kec. Pedurungan, Kota Semarang, Kode Pos 50198