Azura Team • 2026-01-20
Azura Labs - Dulu, desain UI/UX sering dianggap urusan “rasa”. Warna ini enak dilihat, layout itu kelihatan rapi, animasi ini terasa smooth. Banyak keputusan desain dibuat berdasarkan insting, pengalaman, atau selera desainer. Dan jujur saja, itu tidak salah.
Tapi sekarang, dunia produk digital sudah berubah. Aplikasi makin kompleks, user makin kritis, dan kompetisi makin ketat. Di sinilah data-driven design mulai mengambil peran besar.
Hari ini, desain bukan cuma soal estetika. Tapi soal angka, perilaku user, dan insight dari analytics. Bahkan, banyak keputusan UI/UX penting sekarang justru ditentukan oleh data, bukan feeling.
Secara sederhana, data-driven design adalah pendekatan desain yang :
Artinya, keputusan desain dibuat berdasarkan :
Bukan lagi :
“Menurutku ini lebih bagus”
tapi,
“Data menunjukkan user lebih nyaman dengan ini”
Karena user sekarang tidak sabaran.
Kalau :
User langsung :
❌ Tutup aplikasi
❌ Uninstall
❌ Pindah ke kompetitor
Analytics membantu tim desain memahami kenapa user pergi dan bagian mana yang bikin mereka frustrasi.
Analytics bukan cuma milik data analyst atau marketer. Di era sekarang, desainer UI/UX juga wajib melek data.
Beberapa jenis data yang sering dipakai dalam UI/UX :
Contohnya :
Data ini membantu menjawab :
Dengan funnel, kita bisa lihat :
Misalnya :
Dari sini, desainer bisa langsung tahu bagian mana yang perlu diperbaiki.
Tools seperti heatmap bikin kita bisa “ngintip” perilaku user :
Session recording bahkan bisa menunjukkan :
Ini insight emas buat UX improvement.
Bukan berarti estetika jadi tidak penting. Tapi sekarang, estetika harus berjalan bareng efektivitas.
Contoh :
Dengan data, desainer bisa :
Hasilnya? Desain bukan cuma indah, tapi juga berfungsi.
Salah satu praktik favorit dalam data-driven design adalah A/B testing.
Alih-alih debat :
“Yang ini lebih bagus deh”
Tim bisa :
A/B testing sering dipakai untuk :
Desain jadi lebih objektif dan minim drama.
Ini penting banget :
data bukan musuh kreativitas.
Justru data :
Desainer tetap butuh :
Tapi data membantu memastikan ide tersebut benar-benar relevan dan berdampak.
Walaupun powerful, pendekatan ini juga punya tantangan.
Terlalu banyak data bisa bikin :
Solusinya :
Data tanpa konteks bisa menyesatkan.
Contoh :
Makanya, data harus dibaca bareng :
Kalau terlalu kaku ke data :
Balance tetap penting.
Ke depan, desainer UI/UX akan makin :
Skill yang makin dicari :
Desainer bukan cuma “pembuat layar”, tapi problem solver berbasis data.
Data-driven design bukan tren sesaat, tapi evolusi cara mendesain. Analytics membantu desainer memahami user lebih dalam, membuat keputusan lebih tepat, dan membangun produk yang benar-benar dipakai dan disukai.
Di masa depan, UI/UX terbaik bukan yang paling cantik, tapi yang :
Dan semua itu dimulai dari satu hal: mendengarkan data.
Baca Juga :
PT. INSAN MEMBANGUN BANGSA
Jl. Lumbungsari V no 3 Kel. Kalicari, Kec. Pedurungan, Kota Semarang, Kode Pos 50198